Selasa, 02 September 2014

Skripsi Oh Skripsi

Apa itu Skripsi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar "lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi".

skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3).

Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D atau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum "berhak" untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak awal.

Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).

Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3 memang diharuskan untuk menemukan dan
menjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasi teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1, skripsi adalah "belajar meneliti".

Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat.


Miskonsepsi tentang Skripsi

Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya "ditujukan" untuk mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata.

Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda:pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.

Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.


Kiat Memilih Dosen Pembimbing

Dosen pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-benar berada di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada dosen pembimbing yang "benar-benar membimbing" skripsi Anda dengan intens. Ada pula yang membimbing Anda dengan "melepas" dan memberi Anda kebebasan. Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu elemen penting yang mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi.

Tiap universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini. Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja lebih "enak" kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing untuk skripsi Anda.

Lalu, bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat?

Secara garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) Dosen senior, dan (2) Dosen junior. Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya, dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih bergelar master, dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus.

Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan mengalami kesulitan sebagai berikut:

  • Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis.
  • Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat.


Tapi, keuntungannya:

  • Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.
  • Anda akan "tertolong" saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk "membantai" Anda.
  • Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A.


Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak "jaim" dan "tidak sok" kepada mahasiswanya.

Tapi, kerugiannya, Anda akan agak "sendirian" ketika menghadapi ujian skripsi. Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa dipastikan Anda akan "dihajar" cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda.

Jadi, hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing.


Tahap-tahap Persiapan dalam menyusun skripsi

Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan "ditarik" masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.

Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.

Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal.

Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.

Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah "hafal di luar kepala" sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.

Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.

Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara "baku". Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.


Hal-hal yang Perlu Dilakukan dalam menyusun skripsi

Siapkan Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun.

Minta Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar. Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk menyelesaikan skripsi.

Buat Time Table. Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu time-consuming. Buat planning yang jelas mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai.

Berdayakan Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest.

Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang "bertugas" membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, "mengejar" untuk bimbingan, dan seterusnya.

Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat "ketidakpastian" tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu.

Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan jasa "pihak ketiga" yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda.

Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Ironis kan?


Format Skripsi yang Benar

Biasanya, setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa bagian sebagai berikut.

Pendahuluan. Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini.

Pengkajian Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang “gagal” menyusun alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak nyambung.

Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan, model penelitian yang diacu, dan sebagainya.

Hasil Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan.

Penutup. Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini.

Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa dengan Anda).


Beberapa Kesalahan Pemula dalam membuat Skripsi

Ketidakjelasan Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi sama sekali sulit untuk dipahami.

Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis “sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk mendapatkan gelar S1.

Bab I : Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses)

Padding. Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan.

Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan.

Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan “kemalasan riset”. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau sempitnya waktu.

Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor.


Menghadapi Ujian Skripsi

Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.

Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam.

Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis.

Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah "konfirmasi" atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well.

Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang jebakan” agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji.

Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu.

Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya mendapat nilai A.

Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa.

Pasca Ujian Skripsi

Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan.

Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya?

Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa ini.

Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar ketertinggalan.

Jadi, menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan?

Kamis, 27 Maret 2014

Indahnya Menulis Skripsi

Banyak mahasiswa yang merasa down saat menulis skripsi atau tugas akhir. Merasa buntu dan berpikiran tak karuan. Sepertinya skripsi dan tugas akhir ialah merupakan momok yang menakutkan bagi setiap mahasiswa di akhir tahun kuliahnya. Kasus-kasus seperti ini tidak perlu ditakuti namun tidak perlu juga dipungkiri.

Menulis skripsi dan tugas akhir itu mudah sebenarnya, asal saja konsep atau proposal kita sebelumnya sudah cukup matang untuk menganalisa kasus yang kita angkat dan akan kita jadikan skripsi itu. Namun ternyata kemudahan yang kita bayangkan karena kita berpikir konsep telah matang misalnya, tidak bisa mudah juga kita dapatkan. Banyak faktor yang menghambat kemudahan skripsi juga kelulusan kita. Faktor-faktor ini yang kita sebut nanti sebagai indikator akan ujian mental dalam menjalani proses skripsi dan tugas akhir. Bersiaplah menahan diri dalam setiap emosi yang akan terpancing.

*Beberapa indikator yang mempengaruhi gagal dan suksesnya skripsi dan tugas akhir itu setidaknya ada 4 (bisa ditambahkan jika memang ada lagi)*:

  1. Mahasiswa
  2. Dosen pembimbing
  3. Kasus yang diangkat dalam Skripsi dan TA beserta sumber data
  4. Finansial support

*Sukses atau mudahnya menulis skripsi dan TA itu setidaknya ada beberapa kemungkinan*:

  1. Motivasi Mahasiswa cukup kuat untuk menyelesaikan tugas akhir seberapa sulitnya kasus yang ia angkat dalam skripsi dan TA-nya. Didukung oleh Dosen pembimbing yang selalu memotivasi dirinya dengan bimbingan yang juga berkualitas. Pun finansial yang cukup pun menjadi salah satu proses kelancaran skripsinya.
  2. Motivasi mahasiswa tidak cukup kuat, namun peran dosen pembimbing dalm memotivasi mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi dan TA-nya sangat kuat dan bahkan ikut mendorong mahasiswa untuk menggapai target. Kasus yang mudah dianalisa ataupun sulit sebenarnya tidak terlalu berpengaruh jika sang dosen sangat kuat dalam mendorong mahasiswanya dan mahasiswa pun akan sukses dan cepat lulus jika memang terpengaruh dengan motivasi dari sang dosen.

*Gagal atau sulitnya menulis skripsi dan TA pun setidaknya ada beberapa kemungkinan*:

  1. Motivasi Mahasiswa cukup kuat untuk menyelesaikan tugas akhir seberapa sulitnya kasus yang ia angkat dalam skripsi dan TA-nya. Namun sayang, dosen pembimbing tidak terlalu mendukung atau malas dalam membimbing atau tidak memproritaskan mahasiswanya atau sangat sibuk dengan aktivitas lain sehingga menomorduakan bimbingan. Disini seberapa kuatnya motivasi dan rajinnya mahasiswa, ia tidak akan bisa melaju mulus jika dosen pembimbingnya mengabaikan bimbingan. Karena bimbingan adalah nyawa dari skripsi dan TA.
  2. Mahasiswa dan dosen pembimbing sama-sama tidak punya keinginan yang cukup kuat untuk dibimbing dan membimbing.
  3. Mahasiswa malas bimbingan. Sementara dosen pembimbing tidak terlalu sibuk dan selalu punya waktu untuk bimbingan, namun jika sang mahasiswa malas, ia menjadi tidak terlalu peduli.

Lalu bagaimana menyikapinya??

SABAR dan JANGAN MALAS. Hanya itu kuncinya. Apakah ia sukses atau tidak dalam skripsi, ya tetaplah tegar dalam ujian ini. IKHTIAR dan TAWAKAL.

Skripsi dan TA hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak ujian yang harus dilalui. Karena nanti kita akan menghadapi ujian yang lebih besar dari sekedar skripsi. Semakin tinggi seseorang pasti semakin tinggi pula ujiannya. Indikasi yang saya kemukakan diatas sebenarnya berdasarkan pengalaman yang saya rasakan sendiri dalam menjalani tahap akhir di perkuliahan.

Saya pun termasuk mahasiswa dengan tipe kemungkinan lamanya menyusun skripsi dengan deraan ujian dari pihak pembimbing yang sangat sibuk dan tidak punya cukup waktu dalam membimbing saya. walhasil, ketika teman-teman seangkatan satu persatu di-wisuda saya masih harus berkutat dengan skripsi.

Oh ya, satu lagi. Cepat atau lamanya seorang mahasiswa lulus bisa juga dipengaruhi oleh fakultas dan jurusan tempat ia kuliah. Sebab kebijakan perguruan tinggi, fakultas dan jurusan pun berbeda dalam memproses tahap akhir mahasiswanya. Ada yang memang tidak bisa lulus 3,5 tahun, karena faktor-faktor yang menghambat di jurusannya. Seperti kebijakan proses mendapat dosen pembimbing yang cukup lama, atau stok dosen pembimbing yang sedikit, atau juga kebijakan pra-skripsi dan TA yang menghambat mahasiswa langsung menyusun skripsi dan TA.

Ya begitulah kenyataannya. Sebab biasanya yang sudah terpatri dalam pikiran masyarakat kita ialah, seorang mahasiswa baru bisa dinyatakan sukses dan cerdas jika ia cepat lulus. Padahal tidak begitu juga. Mahasiswa yang lulusnya lama pun tidak bisa disalahkan atau di-judge bahwa ia kurang cerdas atau lainnya. Bisa jadi ada faktor administrasi dan kebijakan kampus yang menghambatnya.

Wallahua’lam…

Jumat, 03 Januari 2014

Seminar Matematika

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION(GI) dan MAKE A MATCH PADA MATERI FUNGSI DI KELAS VIII SMP

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Seminar Matematika

Disusun oleh:
NICO ANDRIANTO
RRA1C210029

Dosen Pengampu :
1. Sri Winarni, S.Pd, M.Pd
2. Rohati, M.Pd









PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2013
 
KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat, karunia dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Koopeatif Group Investigation dan Make a Match Pada Materi Fungsi di Kelas VIII SMP”. Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar Matematika, juga sebagai tambahan referensi tentang pendidikan, khususnya dalam penerapan metode pembelajaran di sekolah.
Dalam menyelesaikan makalah ini penulis telah mendapatkan arahan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Sri Winarni, S.Pd, M.Pd dan Ibu Rohati, M.Pd, Dosen Pengampu mata kuliah Seminar Matematika yang telah banyak memberikan masukan, bimbingan dan arahan dalam pembuatan makalah ini.
2. Rekan-rekan seperjuangan yang selama penulisan makalah ini telah banyak memberikan dukungan kepada penulis.
Dalam penulisan makalah ini penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk lebih sempurna, namun jika masih ada kekurangan penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca semua demi kesempurnaan makalah ini.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, semoga makalah ini memberikan manfaat kepada kita semua.

















BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Keberhasilan proses pembelajaran tidak lepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif didalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi optimal.
Untuk dapat mengembangkan model pembelajaran yang efektif maka setiap guru harus memiliki pengetahuan yang memadai berkenaan dengan konsep dan cara-cara pengimplementasian model-model tersebut dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang efektif memiliki keterkaitan dengan tingkat pemahaman guru terhadap pengembangan dan kondisi siswa-siswa di kelas. Demikian juga pentingnya pemahaman guru terhadap sarana dan fasilitas sekolah yang tersedia, komdisi kelas yang beberapa factor lain yang terkait dengan pembelajaran. Tanpa pemahaman terhadap berbagai kondisi ini, model yang di kembangkan guru cenderung tidak dapat meningkatkan persentase siswa secara optimal dalam pembelajaran, dan pada akhirnya tidak dapat member sumbangan yang besar terhadap pencapaian hasil belajar siswa.
Sanajaya(2009;208), mengatakan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar, guru memegang peran yang sangat penting. Guru menentukan segalanya, mau di apakan siswa? Apa yang harus di kuasai siswa? Bagaimana cara melihat keberhasilan belajar? Semua tergantung guru. Oleh karena itu begitu pentingnya peran guru.
Banyak cara yang dapat di gunakan guru dalam membelajarkan siswa agar lebih mudah dalam memahami dan menguasai konsep dari materi yang di pelajari, salah satunya yaitu menggunakan model pembelajaran. Satu inovasi yang menarik mengiringi kenyataan yang ada adalah di temukannya dan di terapkannya model-model pembelajaran inovatif – progresif yang dengan tepat mampu mengembangkan dan menggali pengetahuan peserta didik secara konkrit dan mandiri.
Berdasarkan alasan tersebut, maka sangatlah penting bagi para pendidik khususnya guru memahami karakteristik materi, peserta didik dan metodologi pembelajaran dalam proses pembelajaran terutama berkaitan pemilihan terhadap model-model pembelajaran modern. Dengan demikian, proses pembelajaran akan lebih variatif, inovatif, dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan dan implementasinya sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan kreatifitas peserta didik.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis member judul makalah ini yaitu “Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation dan Make a Match pada materi Fungsi di kelas VIII SMP”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah ditemukan diatas, maka rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut:
Bagaimana Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation dan Make a Match pada materi Fungsi kelas VIII SMP ?

1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah “ untuk mengetahui konsep Penerapan
Model pembelajaran Group Investigation dan Make A Match pada materi Fungsi kelas VIII SMP.

1.4 Manfaat
1. Melalui penulisan makalah ini manfaat yang diperoleh oleh mahasiswa atau calon pendidik adalah bertambahnya informasi dan berkembangnya wawasan mengenai Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation dan  Make A Match , sehingga nantinya dapat diterapkan dengan baik dalam proses pembelajaran.
2. Manfaat yang diperoleh melalui penulisan makalah ini adalah agar para pendidik mampu lebih selektif dalam memilih model pembelajaran yang menarik dan kreatif serta efektif dalam proses pembelajaran dan agar guru juga mampu mengetahui model pembelajaran khususnya “Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation dan Make A Match.












BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1 Model Pembelajaran
            Secara umum istilah “Model” di artikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Menurut Dahlan dalam Isjoni(2009;16), model mengajar dapat di artikan sebagai suatu rencana atau pola yang di gunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran dan member petunjuk kepada pengajar di kelas. Joyce dalam Trianto(2007;5), mengatakan model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang di gunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum dan lain-lain.
            Menurut Nur M dalam Trianto(2007;6), model pembelajaran mempunyai empat cirri khusus yaitu sebagai berikut :
1.      Rasional teoritik logis yang di susun oleh para pencipta atau pengembangnya.
2.      Landasan pemikiran tentang apa yang dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan di capai).
3.      Tingkah laku mengajar yang di perlukan agar model tersebut dapat di laksanakan dengan berhasil.
4.      Lingkungan belajar yang di perlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Dengan adanya berbagai macam bentuk model pembelajaran di harapkan guru dapat memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang akan di ajarkan kepada siswa, sehingga dengan model pembelajaran yang tepat proses belajar mengajar dapat tercapai. Mengingat bahwa siswa adalah unsure pokok dalam pengajaran maka siswa yang harus menerima dan mencapai berbagai informasi pengajaran yang nantinya dapat mengubah tingkah laku sesuai dengan yang di harapkan. Oleh karena itu, siswa harus di jadikan sebagai sumber pertimbangan di dalam pemilihan sumber pengajaran.
            Dengan demikian merupakan hal yang sangat penting bagi para pengajar untuk mempelajari dan menambah wawasan tentang model pembelajaran yang telah di ketahui. Karena dengan menguasai beberapa model pembelajaran, maka seorang guru akan merasakan kemudahan di dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, sehingga tujuan pembelajaran yang hendak kita capai dalam proses pembelajaran dapat tercapai dan tuntas sesuai yang di harapkan.




2.2 Model Pembelajaran Group Investigation
            2.2.1 Pengertian Model Pembelajaran Group Investigation
Group Investigation merupakan  salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet.  Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.
Dalam metode Group Investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian atauenquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group, (Udin S. Winaputra, 2001:75). Penelitian di sini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi.
Slavin (1995) dalam Siti Maesaroh (2005:28), mengemukakan hal penting untuk melakukan metode Group Investigation adalah:
1. Membutuhkan Kemampuan Kelompok.
Di dalam mengerjakan setiap tugas, setiap anggota kelompok harus mendapat kesempatan memberikan kontribusi. Dalam penyelidikan, siswa dapat mencari informasi dari berbagai informasi dari dalam maupun di luar kelas.kemudian siswa mengumpulkan informasi yang diberikan dari setiap anggota untuk mengerjakan lembar kerja.
2. Rencana Kooperatif.
Siswa bersama-sama menyelidiki masalah mereka, sumber mana yang mereka butuhkan, siapa yang melakukan apa, dan bagaimana mereka akan mempresentasikan proyek mereka di dalam kelas.
3. Peran Guru.
Guru menyediakan sumber dan fasilitator. Guru memutar diantara kelompok-kelompok memperhatikan siswa mengatur pekerjaan dan membantu siswa mengatur pekerjaannya dan membantu jika siswa menemukan kesulitan dalam interaksi kelompok.
Para guru yang menggunakan metode GI umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen, (Trianto, 2007:59). Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang  telah dipilih, kemudian menyiapkan dan mempresentasikan laporannya di depan kelas.
Langkah-langkah penerapan metode Group Investigation, (Kiranawati (2007), dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Seleksi topik
Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
2. Merencanakan kerjasama
Para siswa bersama guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) diatas.
3. Implementasi
Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan keterampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
4. Analisis dan sintesis
Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
5. Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
6. Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.
Tahapan-tahapan kemajuan siswa di dalam pembelajaran yang menggunakan metodeGroup Investigation untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut, (Slavin, 1995) dalam Siti Maesaroh (2005:29-30):
Enam Tahapan Kemajuan Siswa di dalam Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Group Investigation
Tahap I
Mengidentifikasi topik dan membagi siswa ke dalam kelompok.
Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberi kontribusi apa yang akan mereka selidiki. Kelompok dibentuk berdasarkan heterogenitas.
Tahap II
Merencanakan tugas.
Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan dari masalah yang akan diteliti, bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai.
Tahap III
Membuat penyelidikan.
Siswa mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan dan mengaplikasikan bagian mereka ke dalam pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok.
Tahap IV
Mempersiapkan tugas akhir.
Setiap kelompok mempersiapkan tugas akhir yang akan dipresentasikan di depan kelas.
Tahap V
Mempresentasikan tugas akhir.
Siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok lain tetap mengikuti.
Tahap VI
Evaluasi.
Soal ulangan mencakup seluruh topik yang telah diselidiki dan dipresentasikan.














Group investigation merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks. Model ini dikembangkan oleh Jhon Dewey dan Herbert A. Thelen. Dalam perkembangannya model ini diperluas dan dipertajam oleh Sharan dari Universitas tel. Aviv. Model pembelajaran ini lebih melibatkan siswa dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya menyeidekan mereka (Trianto,2010:78).
Jhon Dewey dalam bukunya “ Democracy and Education” merekomendasikan bahwa keseluruhan sekolah adalah miniature demokrasi dalam mana siswa berpartisipasi dalam pengembangan sistem secial dan diharapkan melalui partisipasi itu secara bertahap, belajar bagaimana menerapkan metode ilmiah untuk kesempurnaan masyarakat manusia. Berdasarkan prinsip – prinsip itu Herbert A. Thelen menarik prinsip – prinsip dasar Jhon Dewey dan mengembangkan model pembelajaran mengajar investigasi kelompok. Melalui model yang dikembangkannya itu, ia mencoba menggabungkan antara strategi mengajar bentuk dan dinamika proses demokrasi dengan proses inkuiri akademik. Hal yang diterapkannya dalam model yang dikembangkan itu belajar yang didasarkan pada pengalaman yang diharapkan dapat mengarah pada metode – metode ilmiah dan memiliki kemungkinan pengembangan dan penerapan dalam situasi kehidupan.
Model tersebut didasari atas pandangan citra sosial manusia. Manusia tidak berkembang secara harmonis tanpa merujuk manusia lain. Dalam hubungannya dengan sekolah maka kelas menurut Herbert merupakan bentuk kecil masyarakat, yang memiliki keteraturan, dan budaya dimana para siswa memperhatikan dan memeliharanya dalam mengembangkan pandangan hidupnya yaitu ukuran dan harapan.

2.3 Implementasi Model Pembelajaran Group Investigation
Implementasi model pembelajaran Group Investigation adalah sebagai berikut :
1.      Guru menyiapkan beberapa topik yang akan menjadi objek diskusi siswa.
2.      Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Kelompok disini dapat dibentuk dengan cara mempertimbangkan keakraban persahabatan, minat yang sama dalam topik tertentu atau melihat nilai ujian terdahulu.
3.      Siswa memilih subtopik untuk diselidiki dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas subtopik yang dipilih.
4.      Selanjutnya dengan bimbingan guru setiap kelompok merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan khusus yang konsisten dengan topik yang telah dipilih.
5.      Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan dari topik yang telah dipilih.
6.      Siswa menganalisis informasi yang diperoleh dan merencanakan bagaimana informasi tersebut dapat diringkas dan disajikan dengan cara yang menarik sebagai bahan untuk dipersentasikan didepan kelas.
7.      Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil penyelidikannya.
8.      Siswa dan guru mengevaluasi tiap kontribusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu keseluruhan.
Menurut Aziz Abdul (2007: 61) ada beberapa hal yang dapat ditarik dari model ini antara lain :
1.      Sistem sosial. Model tersebut adalah demokratik. Masalah dimunculkan oleh guru atau ditentukan oleh guru sebagai objek pengajaran. Dalam hal ini guru dan siswa mempunyai status yang sama.
2.      Prinsip – prinsip reaksinya adalah guru bertindak sebagai konselor tanpa mengganggu struktur yang ada.
3.      Sistem yang menunjang. Dukungan yang diberikan guru bersifat ekstensif dan responsive terhadap kebutuhan siswa. Perpustakaan yang baik merupakan keperluan esensial bagi model tersebut. Disamping itu hubungan dan kontak – kontak dengan lembaga – lembaga di luar sekolah dan juga pribadi – pribadi diperllukan oleh siswa untuk memecahkan masalah yang menjadi topik pembahasan.

2.4 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match
     Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk bekerja dalam suatu tim untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk tujuan bersama. Model kooperatif merupakan model pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk mencapai kompetensinya dengan menekankan kerjasama antar siswa.
     Karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match adalah adanya permainan “mencari pasangan”. Permainan “mencari pasangan” menggunakan kartu yang berisi soal dan jawaban soal dari kartu lain. Siswa mencoba menemukan jawaban dari soal dalam kartunya yang terdapat pada kartu yang dipegang siswa lain. Model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match cocok digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa karena pada model pembelajaran ini siswa diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan siswa lain, suasana belajar di kelas dapat diciptakan sebagai suasana permainan, ada kompetisi antar siswa untuk memecahkan masalah yang terkait dengan topik pelajaran serta adanya penghargaan (reward), sehingga siswa dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan.
     Model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match merupakan pembelajaran yang dikembangkan oleh Lorna Curran pada tahun 1994. Salah satu keuntungan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik (Anita Lie, 2003:55).
2.5     Langkah-langkah Pembelajaran
               Dalam buku Strategi Pembelajaran Aktif oleh Hsyam zaini, model pembelajaran ini adalah model yang cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian , materi baru pun tetap bisa diajarkan dengan model ini dengan catatan, peserta didik diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal pengetahuan. Adapun langkah-langkahnya adalah:
1)   Guru membuat potongan-potongan kertas sejumlah peserta didik yang ada di dalam kelas.
2)   Guru membagi jumlah kertas-kertas tersebut menjadi dua bagian yang sama.
3)   Guru menulis pertanyaan tentang materi yang telah diberikan sebelumnya pada setengah bagian kertas yang telah disiapkan. Setiap kertas berisi satu pertanyaan.
4)   Pada sebagian kertas yang lain,guru menulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang tadi dibuat.
5)   Kemudian guru mengocok semua kertas sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban.
6)   Guru memberi setiap peserta didik satu kertas. Setelah itu guru menjelaskan bahwa ini adalah aktivitas yang dilakukan berpasangan. Setengah peserta didik akan mendapatkan soal  dan setengah yang lain akan mendapatkan jawaban.
7)   Minta peserta didik untuk menemukan pasangan mereka. Jika ada yang sudah menemukan pasangan, minta mereka untuk duduk berdekatan. Terangkan juga agar mereka tidak memberitahu materi yang mereka dapatkan kepada teman yang lain.
8)   Setelah semua peserta didik menemukan pasangan dan duduk berdekatan, minta setiap pasangan secara bergantian untuk membacakan soal yang diperoleh dengan keras kepada teman yang lain. Selanjutnya soal tersebut dijawab oleh pasangan yang lain.
9)   Terakhir membuat klarifikasi dan kesimpulan serta evaluasi .




2.6     Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Make A Match
          Dikutip dari htttp://www.model-pembelajaran-make-a-match-tujuan-persiapan dan.html. Adapun kelebihan serta kekurangan model pembelajaran Make A Match adalah sebagai berikut :
     1) Kelebihan  Model Pembelajaran Make A Match
a.    Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa baik secara kognitif maupun fisik.
b.    Sangat menyenangkan karena ada unsur permainan.
c.    Dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi.
d.   Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa.
e.    Efektif sebagai sarana melatih kedisiplinan siswa.       
2)  Kekurangan Model Pembelajaran Make A Match
a.    Jika tidak dirancang dengan baik maka akan menyebabkan banyak waktu terbuang.
b.    Pada awal penerapan banyak siswa malu jika berpasangan dengan lawan jenisnya.
c.    Jika tidak diarahkan dengan baik, maka banyak siswa yang kurang memperhatikan saat presentasi.
d.   Harus berhati-hati dalam memberikan hukuman agar siswa tidak merasa malu.
e.    Jika terus-menerus menggunakan model ini maka siswa akan mengalami kejenuhan.



























BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation
          Pada pertemuan kali ini materi yang akan dipelajari adalah Fungsi. Kegiatan awal yang dilakukan oleh guru adalah memberitahukan siswa tentang tujuan dan materi ajar yang akan dijalani siswa selama melakukan kegiatan belajar pada materi Fungsi. Tujuan dari pembelajaranya adalah :
1. Siswa dapat menjelaskan pengertian fungsi, domain, kodomain, dan range.
2. Siswa dapat menjelaskan notasi pemetaan(pemetaan)
3. Siswa dapat menyatakan pemetaan dalam diagram panah.


Fungsi, dalam istilah matematika adalah pemetaan setiap anggota sebuah himpunan (dinamakan sebagai domain) kepada anggota himpunan yang lain (dinamakan sebagai kodomain). Istilah ini berbeda pengertiannya dengan kata yang sama yang dipakai sehari-hari, seperti “alatnya berfungsi dengan baik.” Konsep fungsi adalah salah satu konsep dasar dari matematika dan setiap ilmu kuantitatif. Istilah "fungsi", "pemetaan", "peta", "transformasi", dan "operator" biasanya dipakai secara sinonim.
Anggota himpunan yang dipetakan dapat berupa apa saja (kata, orang, atau objek lain), namun biasanya yang dibahas adalah besaran matematika seperti bilangan riil. Contoh sebuah fungsi dengan domain dan kodomain himpunan bilangan riil adalah y=f(2x), yang menghubungkan suatu bilangan riil dengan bilangan riil lain yang dua kali lebih besar. Dalam hal ini kita dapat menulis f(5)=10.
1. Pengertian Domain, Kodomain, Range
Domain disebut juga dengan daerah asal, kodomain daerah kawan sedangkan range adalah daerah hasil.
contoh : Diketahui himpunan P = { 1,2,3,4 } dan himpunan Q = { 2,4,6,8,10,12 }
                                                                                       Q
2
4
6
8
10
12

2
3
 

                                          P
1
2
3
4
 









Relasi dari himpunan P ke himpunan Q dinyatakan dengan " setengah dari ".
Jika relasi tersebut dinyatakan dengan himpunan pasangan berurutan menjadi :
{ (1,2),(2,4),(3,6),(4,8) }.
Relasi di atas merupakan suatu fungsi karena setiap anggota himpunan P mempunyai tepat satu kawan anggota himpunan Q.

Dari fungsi di atas maka :
Domain/daerah asal = himpunan P = { 1,2,3,4 }
Kodomain/daerah kawan = himpunan Q = { 2,4,6,8,10,12 }
Range/daerah hasil = { 2,4,6,8 }


2). Domain, Kodomain  dan Range

Pada relasi dari himpunan A ke B, himpunan A disebut Domain (daerah asal) himpunan  B disebut Kodomain (daerah kawan) dan  semua anggota B yang mendapat pasangan dari A disebut Range (derah hasil).

Contoh  :
Tuliskan Domain, Kodomain dan Range dari relasi Contoh  di atas :

Jawab:
Domain = {2, 4, 6}
Kodomain = {2, 4, 6, 8, 10, 11}
Range = { 2, 4, 6, 8, 10}

2.3 Fungsi
            2.3.1 Pengertian Fungsi
            Misalnya, himpunan A = (kuala lumpur, Tokyo, Madrid, New delhi) dan B =( jepang, spanyol, Malaysia, india). Kita dapat membuat relasi ibukota dari himpunan A ke himpunan B. perhatikan gambar di bawah ini.
Jepang
India
Malaysia
spanyol
Kuala lumpur
Tokyo
Madrid
New delhi
                        A                                                                 B
 

                                         A                                                                B
 

           
Pada diagram tersebut terlihat bahwa relasi dari A ke B memilki sifat-sifat sebagai berikut :
-          Setiap anggota A memiliki kawan di anggota B
-          Tidak ada anggota A yang mempunyai kawan lebih dari satu di B.
Suatu relasi memenuhi kedua sifat tersebut merupakan relasi khusus yang dinamakan fungsi.
Definisi :
Fungsi atau pemetaan dari himpunan A ke himpunan B adalah relasi khusus yang memasangkan setiap anggota A dengan tepat satu anggota B. sebagai bentuk khusus dari relasimaka relasi dapat dinyatakan dengan tiga cara yaitu diagram panah, diagram cartesius dan himpunan pasangan berurutan.
Contoh :
      Manakah di antara diagram panah berikut yang menunjukan pemetaan?
A
B
C
J
K
L
                                             A                                                B
 

                        X
 




J
K
L
A
B
C
                                                C                                                    D
 

                        Y
 

            Penyelesaian :
X. diagram panah tersebut menyatakan fungsi (pemetaan) karena setiap anggota A mempunyai
     tepat satu kawan di B.
Y. diagram panah tersebut tidak menyatakan fungsi karena terdapat A€C yang mempunyai kawan lebih dari satu di D.


2.3.2 Domain, Kodomain dan Range Fungsi
J
K
L
M
1
2
3
         A                                             B
 





            Pada fungsi tersebut, himpunan A dinamakan daerah asal fungsi (domain) dan himpunan B dinamakan daerah kawan fungsi (kodomain). Selain itu dikatakan bahwa :
-          2 anggota himpunan B merupakan peta dari 1 anggota himpunan A secara matematis di tulis 2€B peta dari 1€A.
-          4 anggota himpunan B merupakan peta dari 2 anggota himpunan A secara matematis di tulis 4€B peta 2€A.
-          6 anggota himpunan B merupakan peta dari 3 anggota himpunan A secara matematis si tulis 6€B peta 3€A.
Himpunan dari peta tersebut merupakan daerah hasil (range). Domain, kodomain, dan range dari fungsi adalah :
a.       Domain, D : (1,2,3)
b.      Kodomain  =(2,4,6,8)
c.       Range, R =(2,4,6)

2.3.3 Nilai Fungsi
         Nilai suatu fungsi dapat di tentukan berdasarkan rumus fungsinya. Kita dapat menentukan nilai fungsi dengan cara mensubtitusikan nilai x pada rumus fungsi f(x).
Contoh :
Tentukan rumus fungsi g:          x2-1. Kemudian tentukan nilai fungsi untuk x = -4 dan x = 3.
Penyelesaian:
         Rumus fungsi g:          x2-1 adalah g(x) = x2-1
            Nilai fungsi untuk x = -4 adalah g(-4) = (-4)2 – 1
                                                                         = 16-1
                                                                         =15
            Nilai fungsi untuk x = 3 adalah g(3)   =(3)2 -1
                                                                        = 9-1 =8
2.3.4 Banyaknya Fungsi yang mungkin dari Dua Himpunan
            Untuk mempelajari banyaknya fungsi yang mungkin dari dua himpunan, pelajarilah contoh berikut :
Di ketahui P=(1) dan Q=(a,b)
            Tentukan banyaknya fungsi yang mungkin dari himpunan P ke himpunan Q adalah…
Penyelesaian :
            Banyaknya himpunan P ke Q ada dua yaitu :
1.
a.
b.
a.
b.
1.
(i)            A               B                     (ii)  A               B
 


            Jadi dapat di tarik kesimpulan bahwa banyaknya fungsi yang mungkin dari himpunan P yang mempunyai anggota sebanyak n ke himpunan Q yang mempunyai anggota sebanyak m adalah mn.

3.2  Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation dan Make A Match pada Materi Fungsi kelas VII SMP
Kegiatan belajar mengajar pada materi fungsi memerlukan alokasi waktu sebanyak 2 jam pelajaran, dimana setiap jam pelajaran memerlukan waktu 40 menit. Sehingga kegiatan belajar mengajar hanya sekali pertemuan.

Adapun kegiatan belajar mengajar adalah sebagai berikut :
Pada kegiatan awal pembelajaran guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan meminta ketua kelas menyiapkan kelas dengan berdoa menurut keyakinan masing-masing. secara tidak langsung seorang guru telah menanamkan sisi religius kepada peserta didiknya. Hal ini dikarenakan ucapan salam itu merupakan do’a dan bentuk kasih sayang seorang guru yang mendo’akan peserta didiknya. Kemudian guru melihat kondisi di dalam kelas seperti kebersihan ruang kelas. Hal ini perlu diperhatikan oleh seorang guru sebelum memulai pelajaran agar pada saat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar menjadi nyaman dengan kondisi ruangan yang bersih. Kemudian guru mengabsensi siswa, ini bertujuan untuk mengetahui berapa jumlah siswa yang dapat berperan dalam kegiatan pembelajaran yang telah dirancang oleh guru sebelumnya.
Setelah mengabsensi siswa, guru menanyakan kepada peserta didiknya bagaimana kabar dan kesiapan peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar hari ini. Hal ini ditanyakan oleh guru sebagai bentuk perhatian seorang guru terhadap keadaan peserta didiknya. Jika peserta didik sudah siap untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar maka guru meminta kepada peserta didik untuk menyiapkan buku dan alat tulis yang berhubungan dengan pembelajaran matematika.
 Guru memfokuskan semua siswa dengan menuliskan judul materi di papan tulis mengenai ”Fungsi” Kemudian memasuki kegiatan apersepsi guru memilih siswa secara acak dan menanyakan materi yang telah di bahas pada pertemuan sebelumnya yaitu tentang “relasi”, lalu meminta siswa tersebut memberikan pendapatnya mengenai keterkaitan materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari hari ini. Tujuan memilih siswa secara acak pada kegiatan apersepsi ini adalah untuk mengetahui kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran hari ini. Selanjutnya guru menginformasikan topik pelajaran dan sub topik pelajaran kepada siswa. Dalam hal ini guru menyampaikan cangkupan materi Fungsi yang akan dipelajari yaitu mengidentifikasi fungsi, menentukan domain,kodomain dan range suatu fungsi, serta menentukan banyaknya pemetaan dari dua himpunan. Tujuan dari penyampaian topik pelajaran dan sub topik pelajaran ini yaitu untuk menyiapkan mental siswa agar ikut merasa terlibat memasuki persoalan yang akan dibahas, memicu minat siswa dan pemusatan perhatian pada materi pelajaran yang akan dibicarakan dalam kegiatan pembelajaran serta sebagai informasi mengenai batas- batas materi pelajaran itu sendiri.
Setelah menyampaikan topik dan sub topik pelajaran guru menginformasikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tujuan pembelajaran disampaikan oleh guru kepada siswa agar siswa karena dapat mempersiapkan siswa secara psikologis dan mengetahui tuntutan yang harus dikuasai oleh siswa setelah mereka mempelajari materi fungsi. Diantaranya siswa dapat mengidentifikasi fungsi, siswa dapat menentukan domain, kodomain dan range suatu fungsi, siswa dapat menentukan banyaknya pemetaaan dari dua himpunan. Tujuan pembelajaran merupakan pangkal tolak keberhasilan dalam pengajaran, makin jelas rumusan tujuan makin mudah menyusun rencana dan mengimplementasikan kegiatan belajar mengajar dengan bimbingan guru (Djamarah dan Zain, 2010 : 33).
Kemudian guru memotivasi siswa dengan cara menginformasikan manfaat yang diperoleh siswa setelah mempelajari materi fungsi ini yaitu sebagai dasar bagi siswa tersebut untuk melanjutkan materi selanjutnya yaitu tentang tabel fungsi dan grafik fungsi. Kegiatan ini penting disampaikan karena dengan mengetahui manfaat belajar hari ini siswa menjadi termotivasi untuk mengikuti pembelajaran.
Selanjutnya memasuki kegiatan inti, dimana fase pertama dalam kegiatan inti ini yaitu fase eksplorasi. Dalam fase eksplorasi ini guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan Make A Match merupakan pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Salah satu poin penting yang harus diperhatikan untuk membentuk kelompok yang heterogen di sini adalah kemampuan akademik siswa. Masing-masing kelompok dapat beranggotakan 4 - 5 orang siswa. Sesama anggota kelompok berbagi tanggung jawab.. Dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation pada fase eksplorasi ini di harapkan timbulnya rasa saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa, interaksi antara siswa yang semakin meningkat, Tanggung jawab individual, keterampilan interpersonal dan kelompok kecil.
 Dalam penerapannya hal pertama yang dilakukan guru adalah membimbing siswa membentuk kelompok. Menurut Wina Sanjaya (2011 :242) mengemukakan dua alasan pentingnya pembelajaran kelompok digunakan dalam pendidikan, pertama beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan orang lain. Kedua pembelajaran kelompok dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.
Kelompok disini dibentuk masing – masing kelompok terdiri dari 4-5 orang. Dan setiap individu harus bisa mempertanggung jawabkan persoalan yang di hadapi kelompoknya, dan setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain. Model pembelajaran ini sangat cocok dengan topik fungsi dan sub topiknya yaitu mengidentifikasi fungsi, menentukan domain, kodomain dan range serta menentukan banyaknya pemetaan dua himpunan, karena di dalam teori model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation siswa di tuntut untuk bertanggung jawab secara kelompok dan individu.
Guru memberikan penjelasan mengenai subtopic yang akan di pelajari pada hati tersebut kepada semua semua siswa. Adapaun subtopik pada materi fungsi tersebut yaitu :
-          Pengertian fungsi
Fungsi, dalam istilah matematika adalah pemetaan setiap anggota sebuah himpunan (dinamakan sebagai domain) kepada anggota himpunan yang lain (dinamakan sebagai kodomain). Istilah ini berbeda pengertiannya dengan kata yang sama dipakai sehari-hari. Konsep fungsi adalah salah satu konsep dasar dari  matematika dan setiap ilmu kuantitatif. Anggota himpunan yang dipetakan dapat berupa apa saja, namun biasanya yang dibahas adalah besaran matematika seperti bilangan riil. Contoh sebuah fungsi dengan domain dan kodomain himpunan bilangan riil adalah y = f (2x), yang menghubungkan suatu bilangan riil dengan bilangan riil yang lain yang dua kali lebih besar. Dalam hal ini dapat ditulis f (5) = 10.

Contoh :
      Manakah di antara diagram panah berikut yang menunjukan pemetaan?
A
B
C
J
K
L
                                             A                                                B
 

                        X
 



J
K
L
A
B
C
                                                C                                                    D
 

                        Y
 



            Penyelesaian :
X. diagram panah tersebut menyatakan fungsi (pemetaan) karena setiap anggota A mempunyai
     tepat satu kawan di B.
Y. diagram panah tersebut tidak menyatakan fungsi karena terdapat A€C yang mempunyai kawan lebih dari satu di D.

Kemudian siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan khusus yang konsisten pada subtopik yang telah dibagikan. Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan. Kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan beragam aktivitas dan keterampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis  jenis sumber belajar yang berbeda baik di dalam atau di luar sekolah. Selain itu guru juga harus secara ketat mengikuti kemampuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan.
Kemudian pada fase elaborasi hal pertama yang dilakukan guru adalah menjelaskan tentang materi yang akan di pelajari yaitu mengenai ”fungsi” dan kemudian guru meminta siswa mengidentifikasi masalah pada materi fungsi, menentukan domain, kodomain, dan range suatu fungsi serta menentukan banyaknya pemetaan dua himpunan. Kemudian guru menerapkan model pembelajaran kooperatif Tipe Make A Match pada fase elaborasi dengan model pembelajaran ini melatih siswa untuk lebih aktif dalam kelompoknya dan dapat bekerjasama dengan baik dengan teman sekelompoknya. Pada fase ini guru membagikan secara acak potongan kertas-kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai materi ‘fungsi’ dan sebagian lagi berisi jawaban-jawaban dari pertanyaan itu kepada semua siswa di setiap kelompok, kertas-kertas tersebut telah di persiapkan oleh guru sebelumnya. Selanjutnya setelah semua siswa mendapat potongan kertas tersebut guru meminta siswa yang telah mendapatkan potongan kertas pertanyaan maupun jawaban untuk menemukan pasangan mereka pada kelompoknya masing-masing. Setelah semua siswa menemukan pasangannya, guru meminta setiap siswa dalam kelompok untuk membacakan soal yang di peroleh dengan keras kepada teman yang lain, selanjutnya soal tersebut di jawab oleh siswa yang menjadi pasangannya, begitu seterusnya sampai setiap anggota kelompok mendapat kesempatan. Setelah setiap kelompok selesai membacakan yang mereka dapat, guru meminta masing-masing kelompok yang lain untuk memberikan pendapat/tanggapan dari setiap kelompok yang menjadi penyaji.
Ketika siswa memberikan tanggapan dari setiap kelompok penyaji, guru melakukan penilaian baik secara individu maupun kelompok dengan cara mencatat siswa – siswa yang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran tersebut dan mengidentifikasi jawaban siswa yang sudah sesuai dengan konsep maupun yang belum sesuai dengan konsep. Penilaian adalah suatu bentuk pemberian motivasi yang diberikan oleh guru kepada siswa atas hasil kerja yang telah dilakukan. Menurut (Djamarah dan Zain, 2010 : 149) pemberian motivasi ini dapat berupa angka, hadiah, pujian atau hukuman. Hal ini dikakukan untuk mempertahankan minat anak didik terhadap materi yang dipelajari.
Selanjutnya pada fase konfirmasi guru memberikan penguatan dan penilaian atas jawaban – jawaban yang dikemukakan setiap siswa dalam kelompoknya masing-masing. Siswa dan kelompok yang berhasil menemukan pasangan dalam kelompoknya dengan benar diberikan penguatan berupa pujian ataupun tepuk tangan, sedangkan siswa yang belum tepat mendapatkan pasangannya dalam kelompok guru memberikannya penguatan berupa kata – kata harus banyak membaca dan belajar lebih rajin lagi di rumah, setelah itu guru bersama-sama siswa menyusun pasangan dari setiap kertas pertanyaan yang belum tepat tadi dengan jawaban yang ada.
Pemberian penguatan dalam kegiatan pembelajaran sangat penting karena dengan adanya penguatan yang diberikan guru terhadap siswa memberikan manfaat diantaranya : (1) Meningkatnya perhatian siswa dalam belajar; (2) membangkitkan dan memelihara perilaku positif siswa; (3) menumbuhkan rasa percaya diri siswa; (4) memelihara suasana belajar yang kondusif.
Dan memasuki Kegiatan menutup pelajaran guru meminta salah satu siswa untuk merangkum dan menyimpulkan mengenai materi yang dibahas, memusatkan perhatian siswa pada hal-hal pokok dalam pelajaran yang sudah dipelajari, dan mengorganisasikan semua kegiatan ataupun pelajaran yang telah dipelajari menjadi satu kebulatan yang bermakna untuk memahami pelajaran itu.. Hal ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman siswa dalam menerima materi yang telah disampaikan. Sehingga siswa selalu mengingat pelajaran yang sudah di pelajari tentang fungsi, menentukan domain, kodomain dan range suatu fungsi serta menentukan banyaknya pemetaan dari dua himpunan.
Selanjutnya tindak lanjut guru memberikan tugas rumah sebelum menutup pelajaran. Hal ini diharapkan agar siswa mau mengulangi dan mempelajari kembali pelajaran di rumah yang telah di pelajari di sekolah dan dapat mengasah kembali kemampuan siswa terhadap materi fungsi yang dipelajari di sekolah.




















BAB IV
PENUTUP

4. 1 Kesimpulan
Berdasarkan isi dari makalah ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1.      Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dan make a match dapat memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran.
2.      Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dan make a match memberikan kesempatan siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran.
3.      Model pembelajaran kooperatif group investigation dan make a match  ini cocok untuk semua bidang pendidikan khususnya matematika.

4. 2 Saran
Berdasarkan dari model kooperatif tipe team acceleration instruction dan group investigation, maka ada saran yang dapat penulis sampaikan:
  1. Pemilihan materi dapat mempengaruhi proses belajar. Oleh karena itu pemilihan materi yang tepat sangatlah diperlukan dalam penggunaan model pembelajaran.
2.      Untuk dapat menjalankan kegiatan pembelajaran dengan efektif dan maksimal, guru harus lebih kreatif mengembangkan model-model pembelajaran yang akan di gunakan.
3.      Adapun saran yang dapat diberikan adalah hendaknya di dalam melaksanakan proses pembelajaran tersebut, guru harus mampu menjadikan situasi di dalam kelas sekondusif mungkin agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Salah satu caranya adalah guru juga harus selektif dan kreatif di dalam memilih model-model pembelajaran dan tidak hanya memakai metode ceramah.



DAFTAR PUSTAKA

Sabandar, Jozua. 2009 MATEMATIKA kelas VIII SMP. Jakarta :Bailmu
Shadiq Fajar. Departemen Pendidikan Nasional.2009 “MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
MATEMATIKA SMP”. :Jogjakarta
Widdiharto, Rachmadi. 2004, MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
MATEMATIKA SMP”. :Jogjakarta