PENERAPAN MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION(GI) dan MAKE A MATCH PADA
MATERI FUNGSI DI KELAS VIII SMP
MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Seminar Matematika
Disusun oleh:
NICO ANDRIANTO
RRA1C210029
Dosen Pengampu :
1. Sri Winarni, S.Pd, M.Pd
2. Rohati, M.Pd
MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Seminar Matematika
Disusun oleh:
NICO ANDRIANTO
RRA1C210029
Dosen Pengampu :
1. Sri Winarni, S.Pd, M.Pd
2. Rohati, M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat,
karunia dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan
judul “Penerapan Model Pembelajaran Koopeatif Group Investigation dan Make a
Match Pada Materi Fungsi di Kelas VIII SMP”. Makalah ini disusun sebagai salah
satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar Matematika, juga sebagai
tambahan referensi tentang pendidikan, khususnya dalam penerapan metode
pembelajaran di sekolah.
Dalam menyelesaikan makalah ini penulis telah mendapatkan
arahan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin
menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Sri Winarni, S.Pd, M.Pd dan Ibu Rohati, M.Pd, Dosen
Pengampu mata kuliah Seminar Matematika yang telah banyak memberikan masukan,
bimbingan dan arahan dalam pembuatan makalah ini.
2. Rekan-rekan seperjuangan yang selama penulisan
makalah ini telah banyak memberikan dukungan kepada penulis.
Dalam penulisan makalah ini penulis telah berusaha
semaksimal mungkin untuk lebih sempurna, namun jika masih ada kekurangan
penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca semua demi kesempurnaan
makalah ini.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, semoga
makalah ini memberikan manfaat kepada kita semua.
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Keberhasilan proses pembelajaran tidak lepas
dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi
pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif didalam proses
pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya
bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat
belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar
dan prestasi optimal.
Untuk dapat mengembangkan model pembelajaran
yang efektif maka setiap guru harus memiliki pengetahuan yang memadai berkenaan
dengan konsep dan cara-cara pengimplementasian model-model tersebut dalam
proses pembelajaran. Model pembelajaran yang efektif memiliki keterkaitan
dengan tingkat pemahaman guru terhadap pengembangan dan kondisi siswa-siswa di
kelas. Demikian juga pentingnya pemahaman guru terhadap sarana dan fasilitas
sekolah yang tersedia, komdisi kelas yang beberapa factor lain yang terkait
dengan pembelajaran. Tanpa pemahaman terhadap berbagai kondisi ini, model yang
di kembangkan guru cenderung tidak dapat meningkatkan persentase siswa secara
optimal dalam pembelajaran, dan pada akhirnya tidak dapat member sumbangan yang
besar terhadap pencapaian hasil belajar siswa.
Sanajaya(2009;208), mengatakan bahwa dalam
kegiatan belajar mengajar, guru memegang peran yang sangat penting. Guru
menentukan segalanya, mau di apakan siswa? Apa yang harus di kuasai siswa?
Bagaimana cara melihat keberhasilan belajar? Semua tergantung guru. Oleh karena
itu begitu pentingnya peran guru.
Banyak cara yang dapat di gunakan guru dalam
membelajarkan siswa agar lebih mudah dalam memahami dan menguasai konsep dari
materi yang di pelajari, salah satunya yaitu menggunakan model pembelajaran.
Satu inovasi yang menarik mengiringi kenyataan yang ada adalah di temukannya
dan di terapkannya model-model pembelajaran inovatif – progresif yang dengan
tepat mampu mengembangkan dan menggali pengetahuan peserta didik secara konkrit
dan mandiri.
Berdasarkan alasan tersebut, maka sangatlah
penting bagi para pendidik khususnya guru memahami karakteristik materi,
peserta didik dan metodologi pembelajaran dalam proses pembelajaran terutama
berkaitan pemilihan terhadap model-model pembelajaran modern. Dengan demikian,
proses pembelajaran akan lebih variatif, inovatif, dan konstruktif dalam
merekonstruksi wawasan pengetahuan dan implementasinya sehingga dapat
meningkatkan aktivitas dan kreatifitas peserta didik.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka
penulis member judul makalah ini yaitu “Penerapan Model Pembelajaran Group
Investigation dan Make a Match pada materi Fungsi di kelas VIII SMP”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah
ditemukan diatas, maka rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut:
Bagaimana Penerapan
Model Pembelajaran Group Investigation dan Make a Match pada materi Fungsi
kelas VIII SMP ?
1.3 Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah “ untuk mengetahui konsep Penerapan Model pembelajaran Group Investigation dan Make A Match pada materi Fungsi kelas VIII SMP.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah “ untuk mengetahui konsep Penerapan Model pembelajaran Group Investigation dan Make A Match pada materi Fungsi kelas VIII SMP.
1.4 Manfaat
1. Melalui penulisan makalah ini manfaat yang
diperoleh oleh mahasiswa atau calon pendidik adalah bertambahnya informasi dan
berkembangnya wawasan mengenai Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group
Investigation dan Make A Match ,
sehingga nantinya dapat diterapkan dengan baik dalam proses pembelajaran.
2. Manfaat
yang diperoleh melalui penulisan makalah ini adalah agar para pendidik mampu
lebih selektif dalam memilih model pembelajaran yang menarik dan kreatif serta
efektif dalam proses pembelajaran dan agar guru juga mampu mengetahui model
pembelajaran khususnya “Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation
dan Make A Match.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Model Pembelajaran
Secara umum istilah “Model” di artikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Menurut Dahlan dalam Isjoni(2009;16), model mengajar dapat di artikan sebagai suatu rencana atau pola yang di gunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran dan member petunjuk kepada pengajar di kelas. Joyce dalam Trianto(2007;5), mengatakan model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang di gunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum dan lain-lain.
Menurut Nur M dalam Trianto(2007;6),
model pembelajaran mempunyai empat cirri khusus yaitu sebagai berikut :
1.
Rasional teoritik logis yang di susun oleh para pencipta atau
pengembangnya.
2.
Landasan pemikiran tentang apa yang dan bagaimana siswa belajar
(tujuan pembelajaran yang akan di capai).
3.
Tingkah laku mengajar yang di perlukan agar model tersebut dapat
di laksanakan dengan berhasil.
4.
Lingkungan belajar yang di perlukan agar tujuan pembelajaran itu
dapat tercapai.
Dengan adanya berbagai
macam bentuk model pembelajaran di harapkan guru dapat memilih model
pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang akan di ajarkan kepada siswa,
sehingga dengan model pembelajaran yang tepat proses belajar mengajar dapat
tercapai. Mengingat bahwa siswa adalah unsure pokok dalam pengajaran maka siswa
yang harus menerima dan mencapai berbagai informasi pengajaran yang nantinya
dapat mengubah tingkah laku sesuai dengan yang di harapkan. Oleh karena itu,
siswa harus di jadikan sebagai sumber pertimbangan di dalam pemilihan sumber
pengajaran.
Dengan demikian merupakan hal yang
sangat penting bagi para pengajar untuk mempelajari dan menambah wawasan
tentang model pembelajaran yang telah di ketahui. Karena dengan menguasai
beberapa model pembelajaran, maka seorang guru akan merasakan kemudahan di
dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, sehingga tujuan pembelajaran yang
hendak kita capai dalam proses pembelajaran dapat tercapai dan tuntas sesuai
yang di harapkan.
2.2 Model Pembelajaran Group Investigation
2.2.1 Pengertian Model Pembelajaran
Group Investigation
Group Investigation merupakan salah satu bentuk model pembelajaran
kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk
mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui
bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari
melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam
menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini
menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi
maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat
melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa
secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir
pembelajaran.
Dalam metode Group Investigation terdapat
tiga konsep utama, yaitu: penelitian atauenquiri, pengetahuan atau knowledge,
dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group, (Udin
S. Winaputra, 2001:75). Penelitian di sini adalah proses dinamika siswa
memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan
adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun
tidak langsung. Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan suasana yang
menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan
pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi.
Slavin (1995) dalam Siti Maesaroh (2005:28),
mengemukakan hal penting untuk melakukan metode Group Investigation adalah:
1. Membutuhkan Kemampuan Kelompok.
Di dalam mengerjakan setiap tugas, setiap
anggota kelompok harus mendapat kesempatan memberikan kontribusi. Dalam
penyelidikan, siswa dapat mencari informasi dari berbagai informasi dari dalam
maupun di luar kelas.kemudian siswa mengumpulkan informasi yang diberikan dari
setiap anggota untuk mengerjakan lembar kerja.
2. Rencana Kooperatif.
Siswa bersama-sama menyelidiki masalah mereka,
sumber mana yang mereka butuhkan, siapa yang melakukan apa, dan bagaimana
mereka akan mempresentasikan proyek mereka di dalam kelas.
3. Peran Guru.
Guru menyediakan sumber dan fasilitator. Guru
memutar diantara kelompok-kelompok memperhatikan siswa mengatur pekerjaan dan
membantu siswa mengatur pekerjaannya dan membantu jika siswa menemukan
kesulitan dalam interaksi kelompok.
Para guru yang menggunakan metode GI umumnya
membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6 siswa
dengan karakteristik yang heterogen, (Trianto, 2007:59). Pembagian kelompok
dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu
topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan
penyelidikan yang mendalam atas topik yang telah dipilih, kemudian
menyiapkan dan mempresentasikan laporannya di depan kelas.
Langkah-langkah penerapan metode Group
Investigation, (Kiranawati (2007), dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Seleksi topik
Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu
wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dulu oleh guru. Para siswa
selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada
tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi
kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
2. Merencanakan kerjasama
Para siswa bersama guru merencanakan berbagai
prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai
topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) diatas.
3. Implementasi
Para siswa melaksanakan rencana yang telah
dirumuskan pada langkah b). pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas
dan keterampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk
menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah.
Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan
bantuan jika diperlukan.
4. Analisis dan sintesis
Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai
informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan agar dapat
diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
5. Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang
menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas
saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik
tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
6. Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai
kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan.
Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau
keduanya.
Tahapan-tahapan kemajuan siswa di dalam
pembelajaran yang menggunakan metodeGroup Investigation untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada table berikut, (Slavin, 1995) dalam Siti Maesaroh
(2005:29-30):
Enam Tahapan Kemajuan Siswa di dalam
Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Group Investigation
|
Tahap I
Mengidentifikasi topik dan membagi
siswa ke dalam kelompok.
|
Guru memberikan kesempatan bagi
siswa untuk memberi kontribusi apa yang akan mereka selidiki. Kelompok
dibentuk berdasarkan heterogenitas.
|
|
Tahap II
Merencanakan tugas.
|
Kelompok akan membagi sub topik
kepada seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan dari masalah yang akan
diteliti, bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai.
|
|
Tahap III
Membuat penyelidikan.
|
Siswa mengumpulkan, menganalisis
dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan dan mengaplikasikan bagian
mereka ke dalam pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok.
|
|
Tahap IV
Mempersiapkan tugas akhir.
|
Setiap kelompok mempersiapkan
tugas akhir yang akan dipresentasikan di depan kelas.
|
|
Tahap V
Mempresentasikan tugas akhir.
|
Siswa mempresentasikan hasil
kerjanya. Kelompok lain tetap mengikuti.
|
|
Tahap VI
Evaluasi.
|
Soal ulangan mencakup seluruh
topik yang telah diselidiki dan dipresentasikan.
|
Group
investigation merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks.
Model ini dikembangkan oleh Jhon Dewey dan Herbert A. Thelen. Dalam
perkembangannya model ini diperluas dan dipertajam oleh Sharan dari Universitas
tel. Aviv. Model pembelajaran ini lebih melibatkan siswa dalam perencanaan baik
topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya menyeidekan mereka
(Trianto,2010:78).
Jhon Dewey dalam
bukunya “ Democracy and Education” merekomendasikan bahwa keseluruhan sekolah
adalah miniature demokrasi dalam mana siswa berpartisipasi dalam pengembangan
sistem secial dan diharapkan melalui partisipasi itu secara bertahap, belajar
bagaimana menerapkan metode ilmiah untuk kesempurnaan masyarakat manusia.
Berdasarkan prinsip – prinsip itu Herbert A. Thelen menarik prinsip – prinsip
dasar Jhon Dewey dan mengembangkan model pembelajaran mengajar investigasi
kelompok. Melalui model yang dikembangkannya itu, ia mencoba menggabungkan
antara strategi mengajar bentuk dan dinamika proses demokrasi dengan proses
inkuiri akademik. Hal yang diterapkannya dalam model yang dikembangkan itu
belajar yang didasarkan pada pengalaman yang diharapkan dapat mengarah pada
metode – metode ilmiah dan memiliki kemungkinan pengembangan dan penerapan
dalam situasi kehidupan.
Model tersebut
didasari atas pandangan citra sosial manusia. Manusia tidak berkembang secara
harmonis tanpa merujuk manusia lain. Dalam hubungannya dengan sekolah maka
kelas menurut Herbert merupakan bentuk kecil masyarakat, yang memiliki
keteraturan, dan budaya dimana para siswa memperhatikan dan memeliharanya dalam
mengembangkan pandangan hidupnya yaitu ukuran dan harapan.
2.3 Implementasi Model
Pembelajaran Group Investigation
Implementasi model pembelajaran
Group Investigation adalah sebagai berikut :
1. Guru
menyiapkan beberapa topik yang akan menjadi objek diskusi siswa.
2. Guru
membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Kelompok disini dapat dibentuk dengan
cara mempertimbangkan keakraban persahabatan, minat yang sama dalam topik
tertentu atau melihat nilai ujian terdahulu.
3. Siswa
memilih subtopik untuk diselidiki dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas
subtopik yang dipilih.
4. Selanjutnya
dengan bimbingan guru setiap kelompok merencanakan prosedur pembelajaran, tugas
dan tujuan khusus yang konsisten dengan topik yang telah dipilih.
5. Siswa
menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan dari topik yang telah dipilih.
6. Siswa
menganalisis informasi yang diperoleh dan merencanakan bagaimana informasi
tersebut dapat diringkas dan disajikan dengan cara yang menarik sebagai bahan
untuk dipersentasikan didepan kelas.
7. Beberapa
atau semua kelompok menyajikan hasil penyelidikannya.
8. Siswa
dan guru mengevaluasi tiap kontribusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai
suatu keseluruhan.
Menurut Aziz
Abdul (2007: 61) ada beberapa hal yang dapat ditarik dari model ini antara lain
:
1. Sistem
sosial. Model tersebut adalah demokratik. Masalah dimunculkan oleh guru atau
ditentukan oleh guru sebagai objek pengajaran. Dalam hal ini guru dan siswa
mempunyai status yang sama.
2. Prinsip
– prinsip reaksinya adalah guru bertindak sebagai konselor tanpa mengganggu
struktur yang ada.
3. Sistem
yang menunjang. Dukungan yang diberikan guru bersifat ekstensif dan responsive
terhadap kebutuhan siswa. Perpustakaan yang baik merupakan keperluan esensial
bagi model tersebut. Disamping itu hubungan dan kontak – kontak dengan lembaga
– lembaga di luar sekolah dan juga pribadi – pribadi diperllukan oleh siswa
untuk memecahkan masalah yang menjadi topik pembahasan.
2.4 Pengertian Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Make A Match
Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang mengharuskan
siswa untuk bekerja dalam suatu tim untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan
tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk tujuan bersama. Model kooperatif
merupakan model pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk mencapai kompetensinya
dengan menekankan kerjasama antar siswa.
Karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match adalah
adanya permainan “mencari pasangan”. Permainan “mencari pasangan” menggunakan
kartu yang berisi soal dan jawaban soal dari kartu lain. Siswa mencoba
menemukan jawaban dari soal dalam kartunya yang terdapat pada kartu yang
dipegang siswa lain. Model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match cocok
digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa karena pada model
pembelajaran ini siswa diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan siswa lain,
suasana belajar di kelas dapat diciptakan sebagai suasana permainan, ada
kompetisi antar siswa untuk memecahkan masalah yang terkait dengan topik
pelajaran serta adanya penghargaan (reward), sehingga siswa dapat belajar dalam
suasana yang menyenangkan.
Model pembelajaran kooperatif tipe Make A-Match merupakan pembelajaran
yang dikembangkan oleh Lorna Curran pada tahun 1994. Salah satu keuntungan
teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai konsep atau
topik dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini bisa digunakan dalam semua
mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik (Anita Lie, 2003:55).
2.5 Langkah-langkah Pembelajaran
Dalam
buku Strategi Pembelajaran Aktif oleh
Hsyam zaini, model pembelajaran ini adalah model yang cukup menyenangkan yang
digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun
demikian , materi baru pun tetap bisa diajarkan dengan model ini dengan
catatan, peserta didik diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan
terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal
pengetahuan. Adapun langkah-langkahnya adalah:
1) Guru
membuat potongan-potongan kertas sejumlah peserta didik yang ada di dalam kelas.
2) Guru
membagi jumlah kertas-kertas tersebut menjadi dua bagian yang sama.
3) Guru menulis
pertanyaan tentang materi yang telah diberikan sebelumnya pada setengah bagian
kertas yang telah disiapkan. Setiap kertas berisi satu pertanyaan.
4) Pada
sebagian kertas yang lain,guru menulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang
tadi dibuat.
5) Kemudian
guru mengocok semua kertas sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban.
6) Guru
memberi setiap peserta didik satu kertas. Setelah itu guru menjelaskan bahwa
ini adalah aktivitas yang dilakukan berpasangan. Setengah peserta didik akan
mendapatkan soal dan setengah yang lain
akan mendapatkan jawaban.
7) Minta
peserta didik untuk menemukan pasangan mereka. Jika ada yang sudah menemukan
pasangan, minta mereka untuk duduk berdekatan. Terangkan juga agar mereka tidak
memberitahu materi yang mereka dapatkan kepada teman yang lain.
8) Setelah
semua peserta didik menemukan pasangan dan duduk berdekatan, minta setiap
pasangan secara bergantian untuk membacakan soal yang diperoleh dengan keras
kepada teman yang lain. Selanjutnya soal tersebut dijawab oleh pasangan yang
lain.
9) Terakhir
membuat klarifikasi dan kesimpulan serta evaluasi .
2.6 Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran
Make A Match
Dikutip
dari htttp://www.model-pembelajaran-make-a-match-tujuan-persiapan
dan.html. Adapun kelebihan serta kekurangan model pembelajaran Make A Match
adalah sebagai berikut :
1) Kelebihan Model Pembelajaran Make A Match
a. Dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa baik secara kognitif maupun fisik.
b. Sangat
menyenangkan karena ada unsur permainan.
c. Dapat
meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi.
d. Efektif
sebagai sarana melatih keberanian siswa.
e. Efektif
sebagai sarana melatih kedisiplinan siswa.
2) Kekurangan
Model Pembelajaran Make A Match
a. Jika
tidak dirancang dengan baik maka akan menyebabkan banyak waktu terbuang.
b. Pada
awal penerapan banyak siswa malu jika berpasangan dengan lawan jenisnya.
c. Jika
tidak diarahkan dengan baik, maka banyak siswa yang kurang memperhatikan saat
presentasi.
d. Harus
berhati-hati dalam memberikan hukuman agar siswa tidak merasa malu.
e. Jika
terus-menerus menggunakan model ini maka siswa akan mengalami kejenuhan.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Penerapan
Model Pembelajaran Group Investigation
Pada pertemuan kali ini materi yang akan
dipelajari adalah Fungsi. Kegiatan awal yang dilakukan oleh guru adalah
memberitahukan siswa tentang tujuan dan materi ajar yang akan dijalani siswa
selama melakukan kegiatan belajar pada materi Fungsi. Tujuan
dari pembelajaranya adalah :
1. Siswa dapat menjelaskan pengertian
fungsi, domain, kodomain, dan range.
2. Siswa
dapat menjelaskan notasi pemetaan(pemetaan)
3. Siswa
dapat menyatakan pemetaan dalam diagram panah.
Fungsi, dalam istilah matematika adalah pemetaan
setiap anggota sebuah himpunan (dinamakan sebagai
domain) kepada anggota himpunan yang lain
(dinamakan sebagai kodomain). Istilah ini berbeda
pengertiannya dengan kata yang sama yang dipakai sehari-hari, seperti “alatnya
berfungsi dengan
baik.” Konsep fungsi adalah
salah satu konsep dasar dari matematika dan setiap ilmu kuantitatif.
Istilah "fungsi",
"pemetaan", "peta", "transformasi", dan "operator" biasanya dipakai
secara sinonim.
Anggota himpunan yang dipetakan dapat berupa apa saja (kata,
orang, atau objek lain), namun biasanya yang dibahas adalah besaran matematika
seperti bilangan
riil.
Contoh sebuah fungsi dengan domain dan kodomain himpunan bilangan riil
adalah y=f(2x), yang menghubungkan suatu bilangan riil dengan bilangan riil
lain yang dua kali lebih besar. Dalam hal ini kita dapat menulis f(5)=10.
1. Pengertian
Domain, Kodomain, Range
Domain disebut juga dengan daerah asal, kodomain daerah kawan sedangkan range adalah daerah hasil.
contoh : Diketahui himpunan P = { 1,2,3,4 } dan himpunan Q = {
2,4,6,8,10,12 }
Q
|
2
4
6
8
10
12
2
3
|
P
|
1
2
3
4
|
Relasi
dari himpunan P ke himpunan Q dinyatakan dengan " setengah dari ".
Jika
relasi tersebut dinyatakan dengan himpunan pasangan berurutan menjadi :
{
(1,2),(2,4),(3,6),(4,8) }.
Relasi
di atas merupakan suatu fungsi karena
setiap anggota himpunan P mempunyai tepat satu kawan anggota himpunan Q.
Dari
fungsi di atas maka :
Domain/daerah
asal = himpunan P = { 1,2,3,4 }
Kodomain/daerah
kawan = himpunan Q = { 2,4,6,8,10,12 }
Range/daerah
hasil = { 2,4,6,8 }
2). Domain, Kodomain dan Range
Pada
relasi dari himpunan A ke B, himpunan A disebut Domain (daerah asal)
himpunan B disebut Kodomain (daerah kawan) dan semua
anggota B yang mendapat pasangan dari A disebut Range (derah hasil).
Contoh :
Tuliskan
Domain, Kodomain dan Range dari relasi Contoh
di atas :
Jawab:
Domain
= {2, 4, 6}
Kodomain
= {2, 4, 6, 8, 10, 11}
Range
= { 2, 4, 6, 8, 10}
2.3 Fungsi
2.3.1 Pengertian Fungsi
Misalnya, himpunan A = (kuala
lumpur, Tokyo, Madrid, New delhi) dan B =( jepang, spanyol, Malaysia, india).
Kita dapat membuat relasi ibukota dari himpunan A ke himpunan B. perhatikan
gambar di bawah ini.
|
Jepang
India
Malaysia
spanyol
|
|
Kuala
lumpur
Tokyo
Madrid
New
delhi
|
Pada diagram
tersebut terlihat bahwa relasi dari A ke B memilki sifat-sifat sebagai berikut
:
-
Setiap anggota A
memiliki kawan di anggota B
-
Tidak ada anggota A
yang mempunyai kawan lebih dari satu di B.
Suatu
relasi memenuhi kedua sifat tersebut merupakan relasi khusus yang dinamakan
fungsi.
Definisi :
Fungsi
atau pemetaan dari himpunan A ke himpunan B adalah relasi khusus yang
memasangkan setiap anggota A dengan tepat satu anggota B. sebagai bentuk khusus
dari relasimaka relasi dapat dinyatakan dengan tiga cara yaitu diagram panah,
diagram cartesius dan himpunan pasangan berurutan.
Contoh
:
Manakah di antara diagram panah berikut
yang menunjukan pemetaan?
|
A
B
C
|
|
J
K
L
|
|
J
K
L
|
|
A
B
C
|
Y
Penyelesaian :
X. diagram panah tersebut menyatakan fungsi
(pemetaan) karena setiap anggota A mempunyai
tepat
satu kawan di B.
Y. diagram panah tersebut tidak menyatakan fungsi
karena terdapat A€C yang mempunyai kawan lebih dari satu di D.
2.3.2 Domain,
Kodomain dan Range Fungsi
|
J
K
L
M
|
|
1
2
3
|
Pada fungsi tersebut, himpunan A
dinamakan daerah asal fungsi (domain) dan himpunan B dinamakan daerah kawan
fungsi (kodomain). Selain itu dikatakan bahwa :
-
2 anggota himpunan B
merupakan peta dari 1 anggota himpunan A secara matematis di tulis 2€B peta
dari 1€A.
-
4 anggota himpunan B
merupakan peta dari 2 anggota himpunan A secara matematis di tulis 4€B peta
2€A.
-
6 anggota himpunan B
merupakan peta dari 3 anggota himpunan A secara matematis si tulis 6€B peta
3€A.
Himpunan
dari peta tersebut merupakan daerah hasil (range). Domain, kodomain, dan range
dari fungsi adalah :
a. Domain,
D : (1,2,3)
b. Kodomain =(2,4,6,8)
c. Range,
R =(2,4,6)
2.3.3 Nilai
Fungsi
Nilai
suatu fungsi dapat di tentukan berdasarkan rumus fungsinya. Kita dapat
menentukan nilai fungsi dengan cara mensubtitusikan nilai x pada rumus fungsi
f(x).
Contoh :
Penyelesaian:
Nilai fungsi untuk x = -4 adalah
g(-4) = (-4)2 – 1
= 16-1
=15
Nilai fungsi untuk x = 3 adalah
g(3) =(3)2 -1
=
9-1 =8
2.3.4 Banyaknya Fungsi yang mungkin dari Dua
Himpunan
Untuk mempelajari banyaknya fungsi
yang mungkin dari dua himpunan, pelajarilah contoh berikut :
Di ketahui P=(1)
dan Q=(a,b)
Tentukan banyaknya fungsi yang
mungkin dari himpunan P ke himpunan Q adalah…
Penyelesaian :
Banyaknya himpunan P ke Q ada dua
yaitu :
|
1.
|
|
a.
b.
|
|
a.
b.
|
|
1.
|
Jadi dapat di tarik kesimpulan bahwa
banyaknya fungsi yang mungkin dari himpunan P yang mempunyai anggota sebanyak n
ke himpunan Q yang mempunyai anggota sebanyak m adalah mn.
3.2 Penerapan
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation dan Make A Match pada
Materi Fungsi kelas VII SMP
Kegiatan
belajar mengajar pada materi fungsi memerlukan alokasi waktu sebanyak 2 jam
pelajaran, dimana setiap jam pelajaran memerlukan waktu 40 menit. Sehingga
kegiatan belajar mengajar hanya sekali pertemuan.
Adapun kegiatan belajar mengajar
adalah sebagai berikut :
Pada
kegiatan awal pembelajaran guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan
meminta ketua kelas menyiapkan kelas dengan berdoa menurut keyakinan
masing-masing. secara tidak
langsung seorang guru telah menanamkan sisi religius kepada peserta didiknya.
Hal ini dikarenakan ucapan salam itu merupakan do’a dan bentuk kasih sayang
seorang guru yang mendo’akan peserta didiknya. Kemudian guru melihat kondisi di dalam kelas seperti kebersihan ruang
kelas. Hal ini perlu diperhatikan oleh seorang guru sebelum memulai pelajaran
agar pada saat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar menjadi nyaman dengan
kondisi ruangan yang bersih. Kemudian guru mengabsensi siswa, ini bertujuan untuk mengetahui berapa
jumlah siswa yang dapat berperan dalam kegiatan pembelajaran yang telah
dirancang oleh guru sebelumnya.
Setelah mengabsensi siswa, guru menanyakan kepada peserta didiknya bagaimana kabar dan kesiapan
peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar hari ini. Hal ini ditanyakan
oleh guru sebagai bentuk perhatian seorang guru terhadap keadaan peserta
didiknya. Jika peserta didik sudah siap untuk mengikuti kegiatan belajar
mengajar maka guru meminta kepada peserta didik untuk menyiapkan buku dan alat
tulis yang berhubungan dengan pembelajaran matematika.
Guru
memfokuskan semua siswa dengan menuliskan judul materi di papan tulis mengenai
”Fungsi” Kemudian memasuki
kegiatan apersepsi guru memilih siswa secara acak dan menanyakan materi yang
telah di bahas pada pertemuan sebelumnya
yaitu tentang “relasi”, lalu meminta
siswa tersebut memberikan pendapatnya mengenai keterkaitan materi sebelumnya
dengan materi yang akan dipelajari hari ini. Tujuan memilih siswa secara acak
pada kegiatan apersepsi ini adalah untuk mengetahui kesiapan siswa dalam
mengikuti pelajaran hari ini. Selanjutnya guru menginformasikan topik pelajaran dan sub topik pelajaran
kepada siswa. Dalam hal ini guru menyampaikan cangkupan materi Fungsi yang akan
dipelajari yaitu mengidentifikasi fungsi, menentukan domain,kodomain dan range
suatu fungsi, serta menentukan banyaknya pemetaan dari dua himpunan. Tujuan dari
penyampaian topik pelajaran dan sub topik pelajaran ini yaitu untuk menyiapkan
mental siswa agar ikut merasa terlibat memasuki persoalan yang akan dibahas,
memicu minat siswa dan pemusatan perhatian pada materi pelajaran yang akan
dibicarakan dalam kegiatan pembelajaran serta sebagai informasi mengenai batas-
batas materi pelajaran itu sendiri.
Setelah
menyampaikan topik dan sub topik pelajaran guru menginformasikan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai. Tujuan pembelajaran disampaikan oleh guru kepada
siswa agar siswa karena dapat mempersiapkan siswa secara psikologis dan mengetahui tuntutan yang
harus dikuasai oleh siswa setelah mereka mempelajari materi fungsi. Diantaranya
siswa dapat mengidentifikasi fungsi, siswa dapat menentukan domain, kodomain
dan range suatu fungsi, siswa dapat menentukan banyaknya pemetaaan dari dua
himpunan. Tujuan pembelajaran merupakan pangkal
tolak keberhasilan dalam pengajaran, makin jelas rumusan tujuan makin mudah
menyusun rencana dan mengimplementasikan kegiatan belajar mengajar dengan
bimbingan guru (Djamarah dan Zain, 2010 : 33).
Kemudian guru memotivasi siswa dengan cara
menginformasikan manfaat yang diperoleh siswa setelah mempelajari materi fungsi
ini yaitu sebagai dasar bagi siswa tersebut untuk melanjutkan materi
selanjutnya yaitu tentang tabel fungsi dan grafik fungsi. Kegiatan ini penting
disampaikan karena dengan mengetahui manfaat belajar hari ini siswa menjadi
termotivasi untuk mengikuti pembelajaran.
Selanjutnya memasuki kegiatan inti, dimana fase
pertama dalam kegiatan inti ini yaitu fase eksplorasi. Dalam fase eksplorasi
ini guru menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe Group
Investigation. Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan Make A Match
merupakan
pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya siswa dibagi ke dalam
kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Salah satu poin penting yang harus
diperhatikan untuk membentuk kelompok yang heterogen di sini adalah kemampuan
akademik siswa. Masing-masing kelompok dapat beranggotakan 4 - 5 orang siswa.
Sesama anggota kelompok berbagi tanggung jawab..
Dengan diterapkannya
model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation pada fase eksplorasi ini di harapkan timbulnya rasa saling ketergantungan
yang bersifat positif antara siswa, interaksi antara siswa
yang semakin meningkat, Tanggung
jawab individual, keterampilan
interpersonal dan kelompok kecil.
Dalam penerapannya hal pertama yang dilakukan
guru adalah membimbing siswa membentuk kelompok. Menurut Wina Sanjaya
(2011 :242) mengemukakan dua alasan pentingnya pembelajaran kelompok digunakan
dalam pendidikan, pertama beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa
penggunaan pembelajaran kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa
sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima
kekurangan orang lain. Kedua pembelajaran kelompok dapat merealisasikan
kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan
mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.
Kelompok disini dibentuk masing – masing kelompok
terdiri dari 4-5 orang. Dan setiap individu harus bisa mempertanggung jawabkan
persoalan yang di hadapi kelompoknya, dan setiap siswa dapat saling mengisi satu sama
lain. Model pembelajaran ini sangat cocok dengan topik fungsi dan sub topiknya
yaitu mengidentifikasi fungsi, menentukan domain, kodomain dan range serta
menentukan banyaknya pemetaan dua himpunan, karena di dalam teori model
pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation siswa di tuntut untuk bertanggung jawab secara
kelompok dan individu.
Guru
memberikan penjelasan mengenai subtopic yang akan di pelajari pada hati
tersebut kepada semua semua siswa. Adapaun subtopik pada materi fungsi tersebut
yaitu :
-
Pengertian fungsi
Fungsi,
dalam istilah matematika adalah pemetaan setiap anggota sebuah himpunan
(dinamakan sebagai domain) kepada anggota himpunan yang lain (dinamakan sebagai
kodomain). Istilah ini berbeda pengertiannya dengan kata yang sama dipakai
sehari-hari. Konsep fungsi adalah salah satu konsep dasar dari matematika
dan setiap ilmu kuantitatif. Anggota himpunan yang dipetakan dapat berupa apa
saja, namun biasanya yang dibahas adalah besaran matematika seperti bilangan
riil. Contoh sebuah fungsi dengan domain dan kodomain himpunan bilangan riil
adalah y = f (2x), yang menghubungkan suatu bilangan riil dengan bilangan riil
yang lain yang dua kali lebih besar. Dalam hal ini dapat ditulis f (5) = 10.
Contoh
:
Manakah di antara diagram panah berikut
yang menunjukan pemetaan?
|
A
B
C
|
|
J
K
L
|
|
J
K
L
|
|
A
B
C
|
Y
Penyelesaian :
X. diagram panah tersebut menyatakan fungsi
(pemetaan) karena setiap anggota A mempunyai
tepat
satu kawan di B.
Y. diagram panah tersebut tidak
menyatakan fungsi karena terdapat A€C yang mempunyai kawan lebih dari satu di
D.
Kemudian
siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan khusus yang
konsisten pada subtopik yang telah dibagikan. Siswa menerapkan rencana yang
telah mereka kembangkan. Kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan beragam
aktivitas dan keterampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada
jenis jenis sumber belajar yang berbeda
baik di dalam atau di luar sekolah. Selain itu guru juga harus secara ketat
mengikuti kemampuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan.
Kemudian pada fase
elaborasi hal pertama yang dilakukan guru adalah menjelaskan tentang materi
yang akan di pelajari yaitu mengenai ”fungsi” dan kemudian guru meminta siswa
mengidentifikasi masalah pada materi fungsi, menentukan domain, kodomain, dan
range suatu fungsi serta menentukan banyaknya pemetaan dua himpunan. Kemudian guru
menerapkan model pembelajaran kooperatif Tipe Make A Match pada fase elaborasi dengan model pembelajaran ini melatih siswa
untuk lebih
aktif dalam kelompoknya dan dapat bekerjasama dengan baik dengan teman
sekelompoknya. Pada fase ini guru membagikan secara acak potongan kertas-kertas
yang berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai materi ‘fungsi’ dan sebagian lagi
berisi jawaban-jawaban dari pertanyaan itu kepada semua siswa di setiap
kelompok, kertas-kertas tersebut telah di persiapkan oleh guru sebelumnya.
Selanjutnya setelah semua siswa mendapat potongan kertas tersebut guru meminta siswa
yang telah mendapatkan potongan kertas pertanyaan maupun jawaban untuk
menemukan pasangan mereka pada kelompoknya masing-masing. Setelah semua siswa
menemukan pasangannya, guru meminta setiap siswa dalam kelompok untuk membacakan
soal yang di peroleh dengan keras kepada teman yang lain, selanjutnya soal tersebut
di jawab oleh siswa yang menjadi pasangannya, begitu seterusnya sampai setiap
anggota kelompok mendapat kesempatan. Setelah setiap kelompok selesai
membacakan yang mereka dapat, guru meminta masing-masing kelompok yang lain
untuk memberikan pendapat/tanggapan dari setiap kelompok yang menjadi penyaji.
Ketika siswa memberikan tanggapan dari setiap kelompok
penyaji, guru melakukan penilaian
baik secara individu maupun kelompok dengan cara mencatat siswa – siswa yang
terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran tersebut dan mengidentifikasi
jawaban siswa yang sudah sesuai dengan konsep maupun yang belum sesuai dengan konsep. Penilaian adalah suatu bentuk
pemberian motivasi yang diberikan oleh guru kepada siswa atas hasil kerja yang
telah dilakukan. Menurut (Djamarah dan Zain, 2010
: 149) pemberian motivasi ini dapat berupa angka, hadiah, pujian atau hukuman.
Hal ini dikakukan untuk mempertahankan minat anak didik terhadap materi yang
dipelajari.
Selanjutnya
pada fase konfirmasi guru memberikan penguatan dan penilaian atas jawaban – jawaban yang
dikemukakan setiap siswa dalam kelompoknya masing-masing. Siswa dan kelompok
yang berhasil menemukan pasangan dalam kelompoknya dengan benar diberikan
penguatan berupa pujian ataupun tepuk tangan, sedangkan siswa yang belum tepat
mendapatkan pasangannya dalam kelompok guru memberikannya penguatan berupa kata
– kata harus banyak membaca dan belajar lebih rajin lagi di rumah, setelah itu
guru bersama-sama siswa menyusun pasangan dari setiap kertas pertanyaan yang
belum tepat tadi dengan jawaban yang ada.
Pemberian penguatan dalam kegiatan pembelajaran sangat
penting karena dengan adanya penguatan yang diberikan guru terhadap siswa
memberikan manfaat diantaranya : (1) Meningkatnya perhatian siswa dalam
belajar; (2) membangkitkan dan memelihara perilaku positif siswa; (3)
menumbuhkan rasa percaya diri siswa; (4) memelihara suasana belajar yang
kondusif.
Dan memasuki Kegiatan menutup pelajaran guru meminta salah
satu siswa untuk merangkum dan menyimpulkan mengenai materi yang dibahas,
memusatkan perhatian siswa pada hal-hal pokok dalam pelajaran yang sudah
dipelajari, dan mengorganisasikan semua kegiatan ataupun pelajaran yang telah
dipelajari menjadi satu kebulatan yang bermakna untuk
memahami
pelajaran itu..
Hal ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman siswa dalam menerima materi yang
telah disampaikan. Sehingga siswa selalu mengingat pelajaran yang sudah di
pelajari tentang fungsi, menentukan domain, kodomain dan range suatu
fungsi serta menentukan banyaknya pemetaan dari dua himpunan.
Selanjutnya tindak lanjut guru
memberikan tugas rumah sebelum menutup pelajaran. Hal ini diharapkan agar siswa
mau mengulangi dan mempelajari kembali pelajaran di rumah yang telah di
pelajari di sekolah dan dapat mengasah kembali kemampuan siswa terhadap materi fungsi yang
dipelajari di sekolah.
BAB
IV
PENUTUP
4.
1 Kesimpulan
Berdasarkan
isi dari makalah ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1.
Penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe group investigation dan make a match dapat memudahkan siswa
dalam memahami materi pembelajaran.
2.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif
tipe group investigation dan make a match memberikan kesempatan siswa untuk
lebih aktif dalam pembelajaran.
3.
Model pembelajaran kooperatif group
investigation dan make a match ini cocok
untuk semua bidang pendidikan khususnya matematika.
4.
2 Saran
Berdasarkan
dari model kooperatif tipe team acceleration
instruction dan group investigation, maka ada saran yang dapat penulis sampaikan:
- Pemilihan materi dapat
mempengaruhi proses belajar. Oleh karena itu pemilihan materi yang tepat
sangatlah diperlukan dalam penggunaan model pembelajaran.
2.
Untuk dapat menjalankan
kegiatan pembelajaran dengan efektif dan maksimal, guru harus lebih kreatif
mengembangkan model-model pembelajaran yang akan di gunakan.
3.
Adapun saran yang dapat
diberikan adalah hendaknya di dalam melaksanakan proses pembelajaran tersebut,
guru harus mampu menjadikan situasi di dalam kelas sekondusif mungkin agar
tujuan pembelajaran dapat tercapai. Salah satu caranya adalah guru juga harus
selektif dan kreatif di dalam memilih model-model pembelajaran dan tidak hanya
memakai metode ceramah.
DAFTAR
PUSTAKA
Sabandar,
Jozua. 2009 MATEMATIKA kelas VIII SMP. Jakarta :Bailmu
Shadiq Fajar.
Departemen Pendidikan Nasional.2009 “MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
MATEMATIKA SMP”.
:Jogjakarta
Widdiharto,
Rachmadi. 2004, MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
MATEMATIKA SMP”.
:Jogjakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar